Wednesday, March 23, 2022

Mental Health

 Sedang banyak masalah, tapi tetap ingin menjalani semua ini seperti biasa saja....


Pokoknya jangan sampai depresi dan kena mental. Harus sehat jasmani dan rohani. Banyak cara buat kita bahagia. Sederhana. Sesederhana jika kita mengingat pernah diperlakukan istimewa. Dan ketika semua itu hilang, maka berusaha utk kembali kemasa dulu sebelum merasa istimewa, meski saat ini ada rasa kehilangan.

Terpenting siapa yang istimewa dan special bagi saya tetap akan seperti itu selama Allah mengijinkan.

Saya anggap bukan masanya saya lagi menjadi bagian yang dibutuhkan. Kalau saya bermanfaat, manfaatkan. Kalaupun tidak, saya tetap ingin menjadi yang bermanfaat versi saya. Yang penting saya tetap waras.


Semoga jika saya membaca ini lagi saya bisa ingat apa yang saya maksud.... 


Banjarmasin, 24 Maret 2022


Sunday, September 3, 2017

SHORT STORY "KING & QUEEN"

  ^KING & QUEEN^
Puspa Mekar


Komitmen adalah Rahasia Hati, Bukan Rahasia Umum ...
Jika saatnya tiba, rahasia besar itu akan terbuka, aku ini punya siapa dan kau milik siapa......
»»»

Cowok itu king sekolah. Setahun yang lalu saat penataran diawal aku memasuki sekolah kejuruan ini dia terpilih menjadi King dan berdampingan dengan seorang Queen yang serasi dengannya.
Semua orang memujanya. Semua orang menatapnya kagum.
Muhammad Ali.
Memang namanya terdengar sederhana bagi kebanyakan orang yang modern dan memilih nama kebarat-baratan. Tapi sebenarnya nama itu sangat agung karna nama seorang Nabi besar dan nama seorang petinju kelas dunia. Mungkin nama itu diberikan saat petinju Muhammad Ali sedang bertarung dan meng -Ko- lawannya. Hmm aku berasumsi sendiri.
Yang pasti nama itu menjadi keren ketika melihat wujud cowok itu. Bagaimana tidak, lihatlah wajahnya mulus, walaupun aku tak kalah mulus sih. Hidungnya sempurna. Matanya tajam dan berbulu mata lentik. Semua cewek meleleh melihatnya.
Tapiiii....aku enggak....
Aku biasa saja bahkan cenderung menghindarinya.
"Omegat, ganteng sangat ni cowok, gue gila banget kalau liat dia, gak papa kalau gak bisa memiliki, asal bisa memandangi...ohhh Ali...."
Suara Anty disebelahku membuat aku menoleh pada Ali yang sedang berdiri dipintu kantin menatap kedalam kantin yang ramai. Sepertinya tak ada tempat duduk untuknya.
"Apaan sih Nty, malu-maluin gue aja lo..." Aku merauk wajah Anty yang seketika mupeng melihat cowok itu. Cool. Eh, kok aku jadi berpikiran dia cool sih? Aku berdecak dan berdiri. Tiba-tiba perasaan tak sukaku naik kekepala.
"Eh, lo mau kemana kok gue ditinggal?" Anty ikut berdiri dan mengiringi langkahku menuju ibu kantin dan membayar makanku yang tak kuhabiskan.
"Gue mau keperpus, mending lo gak usah ikut, tar lo berisik, dimarahin sama Bu Wiwid." Aku meninggalkan Anty yang tetap mengikutiku walaupun aku larang ikut.

»»»

"Sttt....Pril...."
Aku menatap seseorang yang tiba-tiba sudah ada disebelahku. Cowok yang selama ini sering mendekati aku. Putih, bermata coklat sama sepertiku, rambutnya ikal, bibirnya memerah.
"Iya, kenapa Fei?" Aku kembali menyimak buku yang kupegang.
"Mmmhh anu..."
"Apa?" Aku menoleh kearahnya. Dia menatapku dalam-dalam. Entah ada setan darimana, kusadari wajahnya mendekat dan aku memundurkan wajahku kaget. Cowok ini kenapa? Datang - datang kok mau nyosor.
"Sebentar jangan gerak, ada bulu mata jatuh..." Feisal menempelkan ujung jari telunjuknya kebawah mataku. Kulihat sehelai bulu mata tertempel disana. Rupanya aku salah faham. Aku jadi malu sendiri.
"Kalau ada bulu mata jatuh, konon katanya ada yang kangen.." Feisal menaruhnya ditelapak tangan dan menepuk tangannya.
"Nih, kalau setelah ditepuk bulu matanya ilang, berarti yang kangen orang jauh, tapi kalau masih tertempel ditelapak tangan, berarti yang kangen orang dekat." Aku menatap feisal heran.
"Nih, ternyata masih nempel, berarti orang yang dekat, gue tau siapa yang kangen sama lo.."
"Siapa?"
"Gue...hee..." Feisal menyunggingkan senyum yang diimutkan. Aku meringis melihatnya lalu balik menyimak buku yang kupegang.
"Pril, cuek banget sih lo ... ?"
"Ini perpustakaan Fei, nanti dimarahi tu sama Bu Wiwid .. " Aku beralasan. Lagian ganggu orang diperpustakaan kan gak asik banget. Mau baca dengan tenang jadi terganggu deh.
"Kalo gitu kita keluar aja yukk..." Feisal menyenggolku. Aku tak menggubrisnya.
"Prill," senggolannya cukup keras kurasa.
"Sttttt....." Suara Bu Wiwid menegur mungkin mulai terganggu dengan kebrisikan Feisal. Aku menutup buku yang kubaca dan berjalan ke rak buku untuk menaruh kembali buku pada tempat saat aku mengambilnya tadi. Feisal membuntutiku begitu juga ketika aku melangkah keluar dari perpustakaan. Ya Tuhan, aku sebal sekali. Didepan perpustakaan aku berhenti mendadak dan akhirnya feisal menabrakku.
"Feiii...tolong dong, gue jangan dibuntuti, gak enak dilihat orang." Aku menolak Feisal berlaku seperti tak ada kerjaan.
"Gue gak peduli orang lain, gue  pedulinya sama lo ... " Feisal masih tetap keras kepala. Aku melangkahkan kaki berlalu segera dari hadapannya.
"Pril, Pril tunggu gue ... " 
Aku tak menggubrisnya meskipun beberapa pasang mata memperhatikan kami.
Bel panjang tanda sudah habis waktu istirahat menyelamatkan aku dari Feisal yang membuatku sangat terganggu.
"Pulang sekolah gue tunggu lo didepan kelas ya Pril..."
Teriakannya tak kuhiraukan dan aku cepat-cepat melarikan diri masuk kelasku dan menuju mejaku dimana sudah ada Anty.
"Pril lo tau gak....."
"ENGGAK."
Aku langsung memotong bicara Anty saat baru saja aku menaruh pantatku dikursi sebelahnya, Anty mulai ingin menggosip. Itu terlihat dari raut wajahnya.
"Ihh, Prilly ini belum juga gue selesai ngomong..."
"Habisnya lo sih, belum juga gue duduk udah mau dikasih gosip.."
"Ihhh ini bukan gosip, gue tadi liat sendiri Ali berduaan sama Lota ditaman, tangan Ali kelihatan seperti ngerangkul bahunya pas lagi duduk dibangku taman itu..." Anty bercerita dengan antusias.
Aku hanya menatapnya datar meski Anty tak tau ada yang mengganggu hatiku mendengarnya. Lota adalah Queen yang mendampingi Ali saat terpilih menjadi King. Sudah bukan rahasia lagi kalau Lota menyukai Ali dan selalu mencari kesempatan untuk berdua dengannya. Ah, apa peduliku?
"Rupanya dipasangkan menjadi King dan Queen bikin mereka deket ya Pril..." Anty menyimpulkan sendiri apa yang dilihatnya. Untung saja aku tak perlu susah susah lagi mengomentarinya karna Bu Nia guru Surat Menyurat dan Komunikasi sudah memasuki kelas.
"Selamat siang anak-anak, siapkan buku kalian, hari ini kita ulangan..."
"Huuuuuuuuu....." Semua murid termasuk Anty berteriak kecuali aku. Aku hanya tersenyum. Meskipun tidak belajar tapi mau gimana lagi kalau Bu Nia mau mengadakan ulangan mendadak begini. Biasanya ini hanya untuk mengetes sejauh mana pemahaman kami dengan pelajaran minggu lalu. Harusnya kalau faham ya tidak perlu khawatir.
"Tenang banget lo Pril," Anty menyenggol bahuku.
"Gak juga, Nty, hanya mencoba menerima kenyataan..."
Akhirnya aku dan Anty hanya terkikik pasrah. 

»»»

Teetttttttt.....!
Bunyi bel terakhir pelajaran bergema keseluruh penjuru sekolah. Aku merapikan buku dan alat tulisku yang ada diatas meja dan memasukkannya kedalam tas.
"Lo naik angkot lagi Pril..."
"Iyaa..." Aku menjawab singkat pertanyaan Anty. Kami beriringan keluar kelas.
"Pril...."
Ck. Feisal. Ternyata dia benar-benar menungguku didepan kelas. Aku berpandangan dengan Anty.
"Gue anterin lo pulang ya..."
"Gak usah gue dijemput kok.."
"Bohong, Prilly naik angkot kok Fei..." Aku mencubit lengan Anty. Anty mengaduh dan setelahnya berbisik.
"Biarin lo dianter sama dia, lumayan ongkos naik angkot  disimpen buat besok..."
Aku menyikut Anty. Aduh, dia tak tau kalau sebenarnya aku tak benar-benar naik angkot. Maksud dia baik tapi itu tak baik buatku. Aduh celaka dua belas dah.
"Maaf Fei, sebenarnya aku dijemput kok, maaf ya..." Aku tetap berusaha menolak Fei.
"Lo jangan sungkan sama gue, gue gak maksa lo buat jadi pacar gue kok, gue hanya mau bantuin lo, karna memang gue sayang sama lo, gue gak tega lo naik angkot, gak papa kok Pril, lo jangan gak enak.." Feisal tetap memaksa.
"Udah biarin aja, dia ganteng ini..." Anty menyenggolku lagi. Akhirnya daripada berdebat aku diam saja sambil melangkahkan kaki kepintu gerbang diiringi Anty dan Feisal. Didepan gerbang Anty pamit karna sudah dijemput oleh Papanya yang mengendarai sepeda motor.
"Lo tunggu disini apa ikut gue ngambil motor dulu...?"
Aku menatap Fei datar dan putus asa dengan kekeras kepalaannya.
"Disini aja..." Aku menjawab seadanya dengan ide yang tiba-tiba muncul dikepala.
Begitu Fei menuju parkiran, diam-diam aku ingin kabur meninggalkan gerbang sekolah. Tergesa aku ingin memasuki komplek disebelah gedung sekolah.
"Pril...!!"
'Omegat, ternyata cepat juga si Fei ngambil motornya.
"Kok gue ditinggalin?"
"Enggak, tadi aku pikir sambil jalan .. "
"Ohh, ayoo naik..."
Aku terpaksa naik keboncengan Fei dan akhirnya motor melesat pulang kerumahku.
»»»
"Dianterin Fei?"
Aku menatap cowok didepanku yang menatap dengan tatapan tajamnya.
"Terpaksa, aku gak bisa ngindar.." Aku menjawabnya agak tak enak melihat reaksinya.
"Jangan sampai kamu jadi tergoda sama dia..."
"Gak akan, aku sayangnya hanya sama kamu ... "
"Cape nggak sih kayak gini?"
"Kamu cape? Oh pantesan..."
"Pantesan gimana?"
"Kamu mulai membagi rangkulanmu sama cewek lain .."
"Gosip murahan .. "
"Tapi buat apa duduk berduaan sih? Emang kamu gak bisa ngehindar?"
"Tanya sama diri kamu, cara ngehindarnya gimana?"
Dia merangkul dan mengusap bahuku. Ya, gimana bisa menghindar kalau tak ada yang tau dia milikku. Muhammad Ali itu milikku. Prilly Mahatei itu miliknya.
Kami sudah berpacaran selama setahun. Setelah Lulus Sekolah Menengah Pertama memasuki Sekolah Menengah Kejuruan. Dulu kami juga satu sekolah bahkan satu kelas dan satu bangku. Kami sepakat memutuskan untuk menutupi hubungan karna takut terganggu. Ali terlalu menawan. Seorang cowok jika memiliki penggemar cewek maka cewek bisa berbuat apa saja untuk membully pilihannya. Berbeda kalau posisinya cewek sepertiku. Kalau ada cowok menyukai seorang cewek, meskipun dia agresif dia takkan membully saingannya.
Itulah sebabnya kami memilih sekolah yang sekiranya tak mungkin dipilih teman-teman SMP kami. Maka pilihan kami  jatuh ke Sekolah Menengah Kejuruan.
Awalnya biasanya saja rasanya. Tapi setelah setahun berlalu dan kami duduk dikelas dua sekarang bahkan terpisah kelas sejak kelas satu, rasanya aku mulai merasa gerah.
Terkadang aku ingin semua orang tau dia milikku ketika dia digosipkan dekat dengan cewek  lain. Sering merasa cemburu bila melihat dia duduk berdua atau berjalan beriringan dengan yang lain dan semua mata menatap mereka.
"Bisa gak kita saling jaga perasaan?" Ali menunduk kearahku yang bersandar dibahunya.
"Caranya?" Aku mendongakkan wajahku kearahnya.
"Bilang aja sama yang deketin kamu, kamu udah sold out.." Ali tertawa diujung ucapannya.
"Ihhh memangnya aku barang jualan...?" Aku mencelos seketika.
Ali meraih kepalaku, aku memukul dadanya yang dibalut kaos hitam warna favoritenya.
Aku menikmati berada dipelukannya. Bermanja padanya. Mendengar rayuannya. Saat seperti ini. Dirumah. Bersamanya. Tanpa ada yang tau dia milikku.
"Sampai kapan?"
"Sampai aku siap dibully orang lagi..."
Ya, saat SMP aku dibully orang yang ingin mendapatkan perhatian Ali. Orang yang menganggap aku biasa dan tak layak disampingnya.
"Kamu itu udah yang paling istimewa buat aku, mereka gak tau senyaman apa aku bila dekat kamu, jangan peduliin mereka..." Ali selalu mematahkan anggapan mereka yang menganggapku tak istimewa.
Sementara tak sedikit orang yang menganggap Ali juga tak layak untukku karna status sosialku yang dianggap lebih tinggi darinya. Memiliki seorang ayah yang sukses menjadi orang terkaya di Indonesia, dimana wajah ayah kadang bertebaran diacara talk show untuk mengulik kiat suksesnya menjadi pengusaha yang memiliki aset besar dalam waktu singkat.
"Aku gak pernah nganggap kekayaan orangtuaku membuat aku lebih tinggi didepan kamu, toh kalau kita berjodoh, kamu yang menjadi imam dan penanggung jawabku, gak usah dipikirin..."
Ya, cinta itu harus mau menerima apa adanya. Bahkan akupun pernah berkata didepan Ayah, Bunda, Mila kakakku dan Juleha asisten rumah tanggaku dirumah
"Biar aku aja yang kaya, gak papa ..."
Saat itu kami sedang membicarakan pesta perkawinan megah relasi Ayah disebuah hotel berbintang lima. Aku berkomentar betapa megah dan ramainya pesta itu.
"Nanti saat ii menikah, kalau bisa seperti impian ii ya, Bun..."
"Emang impian lo kaya gimana sih, Dek?" Kak Mila menyahutiku sambil ikut bersandar di Sofa.
"Aku pingin kaya puteri puteri kerajaan gitu Kak, pake baju yang lebar ada kawatnya itu, pokoknya disetting seperti negeri dongeng gitu, kaya cinderella, dijemput pakai kereta kencana berkuda beneran ... " Dengan antusias aku menjelaskan pada Kak Mila diiringi senyuman Ayah dan Bunda.
"Wuihhh, kalau sama yang sekarang nikahnya, dia harus kerja keras buat mewujudkan impian lo itu biayanya pasti mahal banget, lain halnya kalau lo sama Rico anak relasi Ayah yang punya lima perusahaan besar di Indonesia itu, dek..." Kak Mila berkomentar dengan mata melebar.
"Biar aku aja yang Kaya, Kak, gak papa kok .. " Aku memiringkan kepalaku mengedipkan mata pada Kak Mila.
"Ihh jangan juga Pril, dia harus punya tanggung jawab, biar dia kerja keras ... " Kak Mila menyahut lagi tak setuju dengan sikapku.
"Tugas cowok hanya bikin ceweknya bahagia Kak, nggak nyakitin, setia, dan nerima apa adanya, yakan bun...?" Aku melirik bunda yang hanya senyum-senyum mendengar pernyataanku.
"Wuiih dewasa sebelum waktunya ni anak...." Kak Mila melemparku dengan bantal Sofa dan aku membalasnya. Ayah dan Bunda hanya senyum-senyum saja mendengar obrolan kami. Obrolan anak umur 19 dan 16 tahun, terasa jauh banget kepernikahan. Hehe.

»»»

Aku melihat kekanan dan kekiri, turun dari boncengan Ali aku langsung bergegas menuju gerbang sekolah. Pagi-pagi sekali Ali sudah menjemputku dengan Motor sportnya.
"Loh, kok jemput aku...?" Aku keheranan melihatnya. Untung saja aku memang terbiasa bangun saat sholat subuh dan tak pernah tidur lagi setelahnya.
"Aku kangen bareng kamu kesekolah, nikmatin pagi sambil dipeluk kamu dari belakang..." Ali tersenyum membuat aku salah tingkah.
Dan rasanya wajahku memanas karna aku merasa malu memiliki kekangenan yang sama. Memeluk dia dari belakang diatas motor yang akan membuat kami dekat sepanjang jalan.
"Gak takut ada yang liat lagi?"
Kami memang sudah pernah beberapa kali pulang dan pergi kesekolah bareng tapi rasanya gak nyaman karna takut kepergok teman satu sekolah. Kaya artis yang pacarannya ditutup-tutupin aja curi-curi gitu karena takut dilihat fans atau wartawan infotainment.
Pernah juga kami pergi nonton, dan kami harus melepaskan selipan jari dan berpencar saat  dari jauh melihat Lota and her gank. Akhirnya kami bertemu saat masing-masing masuk kestudio dan mencari tempat duduk yang bersebelahan sesuai dengan tiket nonton yang kami beli. Didalam bioskop sepanjang film diputar tangan kami tak pernah terlepas bahkan popcorn yang sempat dibeli Alipun tak banyak berkurang.
"Enggaklah, ini masih pagi banget, aku sengaja supaya belum ada yang sampai disekolah selain kita..."
"Nanti turunin aku agak jauh aja dari gerbang, Li, takutnya udah ada yang datang duluan selain kita ... "
"Oke..."
Ali memasangkan helm dikepalaku dan akhirnya kamipun melesat bersama sampai diujung jalan sebelum gerbang sekolah.
"Aku duluan sedikit ya sayang..." Aku mengangguk masih saja tersipu jika dia memanggilku dengan kata 'sayang' yang tak bisa dengan bebas dia ucapkan didepan banyak orang.
Aku berjalan kaki dengan santai menuju gerbang. Didepan gerbang bertemu Anty yang memang juga selalu pagi-pagi sekali sampai kesekolah karna berbarengan dengan Ayahnya yang pergi bekerja.
"Pril, jauh juga ya lo jalan kaki turun dari angkot..." Anty berkata sambil menungguku sampai didepannya.
"Udah biasa, Nty..."
Aku menyeka dahiku yang terasa basah sambil tersenyum.
"Omegatttt.....Pril..." Anty meremas tanganku. Aku mengikuti arah pandangnya. Ali berdiri diparkiran yang kami lewati sambil membenahi rambutnya. Sedikit senyum disudut bibirnya ketika mata kami bertemu.
"Kenapa?" Aku mengalihkan tatapan menoleh pada Anty.
"Senyumnya Prill, ohh Aliii..."
"Anty, lo jangan malu-maluin gue deh..." Seperti biasa aku bersikap tak suka tiap kali Anty mengagumi Ali. Bukan benci sama Anty, diakan gak tau yang disebelahnya ini yang punya.
Aku menyembunyikan senyumku melihat Anty dengan wajah sumringah melewati Ali yang masih berdiri diparkiran. Aku tau, dia menunggu aku lewat dulu baru dia akan beranjak kekelasnya.
Ketika secara diam - diam tanpa sepengetahuan Anty aku menoleh lagi pada Ali yang sudah kami lewati, senyumku memudar melihat Lota menghampiri Ali dan menggandengnya tapi sedetik kemudian Ali melepaskan tangan Lota. Ck. Kenapa cewek itu agresif sekali ya? Aku menghela nafas. Rasanya capek hati jika harus melihat seperti ini tanpa bisa mencegah. 

»»»

"Ali, maaf, gue udah gak tahan nungguin lo nembak gue, gue gak sabar pingin ngeresmiin hubungan kita, gue ngomong gini karna gue ngerasa lo punya rasa yang sama ke gue, gue cinta sama lo, gue pingin kita resmi jadian bukan hanya King dan Queen sekolah tapi gue ingin jadi Queen dihati lo ... "
Kalimat yang keluar dari bibir manis Lota membuat aku memejamkan mata dibalik tembok yang menghalangi Ali dan Lota yang sedang berdiri berhadapan.
Aku lihat Ali menatap Lota tak berkedip. Aku yakin Ali syok ditembak Lota. Apalagi Lota meyakini Ali juga punya rasa yang sama padanya. Aku menggigit gigit bibirku menunggu apa yang akan dikatakan Ali.
"Doorrrr....!" Suara teriakan mengagetkanku.
"Lagi apa lo disini ngintipin orang pacaran??" Fei melongok ke arah pandanganku.
"Oh, Ali dan Lota..." Fei menatap kearah yang tadi kupandang.
"Gu..gue tadi mau ketoilet tapi gak enak ngelewatin orang orang itu kayaknya serius banget..." Spontan aku menjawab. Sialan Fei mengganggu saja. Ah, jadi gak taukan apa yang Ali katakan sama tu cewek.
"Serasi ya mereka, King dan Queen...ganteng dan cantik ... Kayak gue sama lo kalau jadi satu alias pacaran.." Selorohan Fei tak begitu kuperhatikan lagi ketika melihat Ali mengusap rambut Lota dan ingin melangkah diiringi cewek itu yang terlihat langsung  memeluknya. Aku lihat tangan Ali menggantung disisi tubuhnya sebelum dengan ragu mengusap punggung dan melepaskan pelukan Lota. Ya Tuhan, ada yang memukul dadaku hingga rasanya lebih nyeri daripada saat ada yang bilang aku tidak menarik dan tak cocok sama Ali. Kulihat Ali mengusap pipi Lota dengan ibu jarinya. Aku memejamkan mata. Aku cemburu. Meskipun aku lihat bibir Ali mengatakan Maaf berulang-ulang didepan Lota.
Aku bergegas meninggalkan tempat itu dan tak jadi ketoilet karna harus melewati tempat mereka sedang berduaan diiringi Fei yang mungkin juga mengurungkan niatnya ketoilet cowok yang bersebelahan dengan toilet cewe.
"Pril, kenapa sih lo?"
"Gak papa Fei. Emang kenapa sama gue?"
"Kenapa gak jadi ke toilet..?"
"Udah gue bilang gak enak ngelewatin..."
"Tapi apa peduli lo? Anggap aja gak ada orang sama seperti yang lainnya..."
Kenapa sih ni cowok bawel banget? Kepo bener dah ah. Kayaknya cocok banget sama Anty. Eh, kenapa aku jadi ingat sama Anty? Aku menggelengkan kepala sambil berlalu.
"Darimana lo?" Anty bertanya begitu aku menghenyakkan diri disebelahnya.
"Dari tadi..." Aku menjawab Anty sambil mendelik dan Anty memukul pelan bahuku.
"Pril..." Didepan pintu kelas Fei berdiri dengan nafas turun naik.
Aduh, kepalaku pusing, Fei dari tadi gak menyerah juga mengejar aku.
"Nty, Fei ini sebenarnya naksir sama lo, dia hanya pura - pura deketin gue supaya bisa deket sama lo..."
"Benarkah?" Mata Anty melebar terkejut dan menatap kearah Fei. Fei mendekatiku dan Anty dengan senyum yang manis. Tapi lebih manis senyum Ali sih.
"Pulang ini gue nganter lo ya..."
"Jangan, gue dijemput sama bokap gue, besok aja kalau mau janjian..." Anty langsung menyela. Aku hampir saja tertawa melihat Fei keheranan.
"Tapiii...." Fei ingin mengklarifikasi.
"Jangan gak sabar gitu dong, besok ya..." Anty masih mencoba,membujuk Fei yang kebingungan. Aku langsung menarik Fei keluar kelas.
"Anty suka sama lo Fei, mending lo sama dia aja...."
"Kenapa lo ngatur gue buat suka sama siapa, Pril? Guekan sukanya sama lo..."
"Gue udah punya cowok, gue gak mau cowok gue salah faham ... "
Feisal terdiam.
"Kenapa gue gak pernah liat lo sama cowok lo?"
"Gak perlu kan Fei gue gandengan dulu biar orang tau gue ada yang punya, cukup dari mulut gue, komitmen itu rahasia hati Fei bukan rahasia umum ..."
'Dengar Li, aku sudah mencoba menjaga perasaan kamu, supaya tak ada yang membuat kamu gak nyaman bila melihatku disekolah, aku berharap kamu bisa tegas sama orang yang gak mau menjaga jarak sama kamu.'

»»»

Telpon genggam yang ada diatas meja samping piringku bergetar dan berbunyi. Acara makan malam ini di Restoran steak favorite Mila dalam rangka kakakku itu mengenalkan Orang tua Kak Kevin pacarnya. Aku gelisah karena sedari tadi Rico mantan pacarku menelpon terus.
Bunda melirik hapeku disela-sela obrolannya dengan Mama Kak Kevin. Lihat deh Kakakku, begitu sumringah disamping pacarnya. Senang ya kalau sudah orang tua dengan orang tua bertemu. Rasanya hubungan lebih terjaga.
Akhirnya aku mengangkat telpon dari Rico.
"Iya?"
"Kamu dimana?"
"Di Steak Resto..."
"Aku juga sedang disini, maukan kamu kesini? Ada Mama sama Papaku, katanya kangen sama kamu..."
"Akuuu...."
"Selamat Malam..."
Tiba-tiba saja Rico sudah ada dibelakangku. Para orang tua begitu juga Kak Mila dan Kak Kevin melihat kearahnya.
"Om, Tante, apa kabar?"
"Baik Nak Rico..." Ayah menyahuti Rico. "Mau gabung disini?"
"Enggak, Om, mau ngajak Prilly kesana ketemu Mama sama Papa, boleh ya Om..."
"Dodi, senang ketemu disini," Ternyata Papanya Rico menyusul dan menyapa Ayah.
"Boleh Prilly saya ajak ke meja kami, saya dan istri kangen ngobrol sama dia..."
Sebenarnya aku tau Ayah, Bunda dan Kak Mila menatap faham padaku. Mataku seolah berkata 'Jangan ijinkan, Ayah...'
Tapi tak mungkin ayah tak mengijinkan kalau orang meminta baik-baik dengan alasan yang tidak ada salahnya.
Akhirnya aku terpaksa mengikuti mereka. Dimeja mereka hanya pembicaraan basa-basi yang tercipta, selebihnya, orang tua Rico membiarkan anaknya yang gencar mengajakku ngobrol. Sebenarnya aku menilai, bukan orang tuanya yang kangen padaku tapi Rico. Rico bahkan ingin mengantarkan aku pulang.
Akhirnya Ayah terpaksa mengijinkan. Aku harus bagaimana? Biarpun gak melakukan apa - apa, aku tetap merasa bersalah pada Ali. Rasanya aku seperti berkhianat saja. Ali sangat sensitif jika sudah berbicara soal Rico.
Rico mantan pacar yang sewaktu putus masih aku cintai. Kami putus karna dia mendua. Saat itu aku baru naik kelas tiga SMP, Rico sudah kelas 2 SMA. Ali tau benar ceritaku dengan Rico, karna diawal kelas 3 itu gara-gara sering curhat tentang Rico karna kami duduk sebangku aku jadi lebih dekat dengan Ali dan dibully. Akhirnya ketika kami lulus SMP Aku dan Ali berkomitmen pacaran tanpa publikasi salah satunya disebabkan aku takut diduakan lagi dan putus lagi akhirnya  dimata orang aku punya banyak mantan.
Sayang udah pulang?
Aku melirik layar handphoneku.
Sms dari Ali. Ali tau aku makan malam sekeluarga dengan keluarga Kak Kevin. Apa jadinya jika dia tau aku sekarang pulang diantar Rico.
Ini lagi dijalan, bentaran lagi nyampe
Ya udah, habis itu istirahat ya
Iya, ini juga aku udah cape
Kalau udah nyampe chatt aku ya
Iya, emang mau ngapain?
Mau cium kamu sebelum bobo
Ih kamu Li, inget ya kamu jangan bobo malem-malem
Aku menutup mulutku dengan jantung berdebar. Ali memang paling bisa membuat dadaku seperti dipukuli. Dipukuli dengan cinta maksutnya. Ah.
"Kok senyum-senyum, kenapa?"
Aku mendelik kearah Rico yang berada dibalik kemudi.
"Gak papa..."
"Gimana kabar Ali, masih pacaran?"
"Kok nanyanya gitu?"
"Siapa tau kan udah putus."
Kalimat Rico yang terakhir kali ini membuatku tak senang. Apa maksudnya berkata seperti itu? Doain banget supaya aku dan Ali putus.
Rico memang tau aku berpacaran dengan Ali karna aku pernah bilang sama dia saat dia pernah meminta maaf telah main hati sama cewek lain dan mengajak aku balikan.
"Kalau udah putus aku pingin kamu balik sama aku...."
Ck. Ini yang aku takutkan bila berduaan saja sama dia. Dia selalu berharap bisa balikan sama aku. Dia sudah sering chatt aku entah itu bbm, line, Wa, sms bukan hanya sekedar say hai apa kabar tapi juga selalu memancing kearah balikan. Aku terpaksa menghapus chatt-nya tak ingin Ali membaca dan salah faham.
Ali memang paling cemburu pada Rico apalagi Rico anak orang kaya lebih dari dia. Diundang ke ulang tahun adik Rico saja, Ali tak henti-henti mengirimkan sms cinta ketika aku pergi hanya sekedar menghargai undangan keluarga Rico. Katanya biar kalau aku ketemu sama Rico aku masih ingat ada orang yang mencintaiku lebih dari apapun dan aku pasti takkan tergoda rayuan mantan pacarku itu untuk balikan. Berasa tersanjung banget deh sampai ditakutkan tergoda segala.
"Doain aku sama dia tetap nyambung seperti lingkaran dan kalau harus berlikupun perjalanannya seperti angka delapan jadi akan selalu ketemu ujungnya tanpa putus, doain ya, forever with him..."
Rico terdiam dengan ucapanku. Mungkin dia pikir masih punya kesempatan. Menurut dia, kalau status pacaran bisa saja putus, apalagi aku baru 16tahun dia baru hampir 20tahun. Dia salah kalau hanya memperkirakan dari segi umur. Aku dan Ali punya pendapat sama soal komitmen. Kami serius. Orang tua kamipun mungkin tak menyangka dalam usia muda seperti ini kami serius menjalin hubungan.
Jujur dan setia sudah menjadi dasar kami menjadikan masing-masing sebagai sahabat hidup. Aku dan Ali menyebut begitu karna aku dan Ali ingin menjadi sahabat hidup selamanya. Menurut kami pacaran bisa putus, menikah bisa cerai, tapi kalau kami menganggap satu sama lainnya sebagai sahabat hidup, maka sahabat itu takkan pernah putus. Aamiin.

»»»

Jam sepuluh aku baru sampai dirumah. Aku lihat mobil Ayah juga sudah terparkir digarasi. Yang mengejutkanku, Aku melihat motor Ali terparkir didepan rumah dan dia sudah duduk diberanda rumah dengan seikat bunga.
"Li, aku minta maaf .. "
Ali menatapku dengan mata kecewa. Ada sesak didadaku telah membuatnya kelihatan terluka. Tapi ini bukan seperti yang dilihatnya. Aku tak berbohong keluar makan malam dengan keluarga Kak Kevin.
Hmmm Nyesel. Kenapa aku bisa ketemu Rico dan keluarganya dan tak bisa  menolak dia untuk mengantarkanku pulang? Nyesel juga kenapa sampai ke gap Ali begini. Harusnya aku bisa ceritakan sendiri padanya dalam suasana yang lain.
"Aku kesini mau kasih ini ... " Ali menyerahkan seikat bunga hidup yang selalu menjadi moodboster aku jika dia yang memberikan.
"Makasih ya ... " Aku mencium bunga itu dan duduk di kursi yang dipisahkan meja disamping Ali. Sesaat kami terdiam.
"Li, tadi akuuu..."
"Tadi Ayah kamu udah jelasin, tapi aku masih gak suka aja kenapa bisa Rico masih coba-coba dekatin kamu ... Aku mulai kuatir kalau dia takkan menyerah sampai niatnya tercapai..." Ali memotong ucapanku. Aku lega ternyata Ayah sangat memahami aku. Tanpa diminta sudah jelasin duluan. Tunggu ya Yah, aku akan peluk Ayah.
"Aku juga gak akan menyerah untuk menolak, percaya ya sama aku, I love you, Li .. "
"I Love You too ... " Ali membuka telapak tangannya yang direntangkan diatas meja, telapak tangannya dengan erat menggenggam jemariku setelah tanganku menyentuhnya.
"Aku minta maaf ya..." Aku meremas tangannya.
"Aku maafin, asal jangan gak bisa menolak saat dia pingin ngelamar kamu..." Ali balas meremas tanganku.
"Enggaklah, aku maunya dilamar kamu..."
Kami terkekeh bersamaan. Untung aja masalahnya gak jadi panjang. Gimana Ali bisa gak percaya, Ayah yang jelasin semuanya.
"Kenapa malam-malam kesini? Kan aku udah pesen kamu jangan bobo malem-malem..."
"Kan aku udah bilang, mau cium kamu sebelum bobo ... "
"Kirain lewat telpon ... "
"Enggak aku mau sentuh kamu  langsung, itu yang ngebawa aku kesini, entah kenapa tadi berasa pingin ketemu banget ... "
Feeling kamu tepat Li, cewek kamu sedang gundah diganggu orang. Aku berbisik dalam hati.
"Ya udah, ini udah ketemu, hampir jam sebelas, kamu nanti kemaleman Li, bukan aku ngusir, tapi aku nguatirin kamu ... " Aku menatapnya kuatir. Ali mengangguk dan menundukkan wajah mengangkat tanganku yang masih digenggamnya.
"I Love You ... "
Darahku berdesir begitu bibir Ali menyentuh punggung tanganku.
"I Love You Too ... "
Dengan dada berdebar aku balik menyentuhkan bibirku kepunggung tangannya. Saat kepalaku menunduk mengecup punggung tangannya Ali mencium ujung kepalaku. Akh.
"Ehm, udah kaya suami mau ninggalin isteri aja pake cium tangan... "
Suara Kak Mila mengagetkan. Omegat saking asiknya berduaan, suara mobil Kak Kevin yang singgah didepan rumah aja gak kami sadari.
"Eh Kak Mila, kebetulan, Ali mau pamit nih, titip salam aja sama ayah sama bunda takut ganggu udah istirahat ... "
Ali langsung berdiri dan pamit pada Mila dengan kikuk. Mungkin tak enak karna kepergok berpegangan, saling mengecup punggung tangan dan mencium kepalaku.
"Ok, hati - hati Li .. " Mila tersenyum dan aku menunjukkan bunga dari Ali pada Kak Mila.
"Alay lo, ntar gue minta belikan bunga satu truk sama Kevin, wleee...."
"Ngatain alay tapi minta belikan juga...hadeh..."
Aku menepuk dahiku dan mendekati Ali yang kulihat siap siap dengan motornya dan sempat saling tegur dengan Kak Kevin.
"Hati-hati, sayang ... "
Aku berbisik didekatnya takut kedengeran sama Kak Mila, bisa-bisa aku diledekin lagi.
"Iya Sayang, aku pulang dulu, bye ... "
Aku melepas Ali dengan perasaan lega. Ah, aku sampai lupa bicara soal Lota. Aku hanya ingin tau Ali  menjawab apa ketika Lota menembaknya?

»»»

BRAKK!
Tasku jatuh dari pundakku ketika Lota mendorong bahuku.
"Aa..da apa Lota?"
"Lo ternyata main belakang ya, satu sekolah udah tau gue Queen, Ali King sekolah ini, kenapa lo deketin dia diem - diem?"
"Deketin diem-diem gimana?"
"Lo sengajakan jalan kaki dari rumah karna lo tau jalan rumah Ali kesekolah ngelewatin komplek lo dan lo nebeng ke dia?"
"Maksud lo apa sih, Lota?"
Sial. Aku menjerit dalam hati. Kenapa dia harus lihat aku hari ini ke-sekolah bareng sama Ali?
"Lo jangan pura - pura, pasti Ali nolak gue karna udah lo rayu, sampai dia pura-pura bilang dia udah punya Queen dihatinya selama setahun, mana mungkin lo, lo bukan saingan gue, gak level gue sama lo."
Aku tak membantahnya. Aku sudah menduga akan menerima penghinaan ini. Aku menunduk ingin mengambil tas yang terjatuh dikakiku. Tapi kaki Lota menginjak tasku. Apa-apaan ini?
Aku seperti mencium kakinya.
"Lota ... Lo keterlaluan ya..."
Aku mendengar suara Ali dari depanku dan Lota berbalik dengan wajah pucat.
"Lo gak boleh kayak gitu sama Prilly ... " Ali memperingatkan Lota.
"Dia udah lancang nyoba jadi saingan gue, dia gak level sama gue, Li, gue lebih layak sama lo.." Lota memeluk Ali sambil menangis. Ali sepertinya terkejut tapi hanya menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Lagi-lagi dadaku seperti didesak oleh puluhan bara Api yang panas menyesak.
Kulihat berpasang-pasang mata melirik kearah kami. Aku mengambil tas yang jatuh dibawah kakiku yang sekarang nampak bekas tapak sepatu Lota.
'Aku hitung sampai tiga, kalau kamu gak lepas pelukannya itu kita berakhir aja, Li....semua menatap kita, aku tak rela orang lain memandang kamu lebih membelanya daripada aku, aku tau dimata mereka aku bukan siapa-siapa kamu, justru Queen dipelukanmu itu mereka kira lebih layak kamu bela, meskipun mereka gak tau kalau aku yang terluka melihatnya sekarang...'
Satu.
Dua.
Tiga.
Goodbye Ali.
Aku berbalik dengan kaki yang sudah sulit untuk dilangkahkan lagi. Semua orang menatapku. Semua orang pasti menghinaku. Semua orang taunya aku yang menyakiti padahal sebenarnya akulah yang tersakiti.
"Prill..."
Aku tak berniat menghentikan langkahku. Kalau hanya menyuruhku berbalik dan melihat tangannya yang harusnya hanya merengkuhku tapi sekarang memeluk orang lain didepan umum aku tak akan sudi.
"Prilly..."
Kurasakan bahuku diraih, dan Ali membalik tubuhku menghadapnya. Tangannya menangkup kedua pipiku. Aku tak tau, bagaimana raut wajah Lota ketika melihatnya.
"Li, tolong ... "
"Kurasa kita gak perlu lagi menutupi, aku gak mau kali ini kamu disalahkan, kalau ada yang bilang kamu gak layak buatku, aku yang akan jawab yang ngerasain itu aku bukan mereka."
"Lota, Gue udah kasih tau lo kemarin, gue udah punya Queen dihati gue, dia orangnya, kami sudah setahun jalan, apa ada masalah buat lo?"
Lota menatap nanar pada Ali dan aku bergantian. Kepalanya menggeleng sepertinya tak percaya.
"Kenapa? Kenapa harus ditutupi? Karna lo malu punya cewe kaya  dia?"
"Sama sekali enggak, gue bangga sama Queennya gue, tapi nutupin adalah hak kami, karna komitmen itu rahasia kami, bukan rahasia umum, biar kami yang ngerasain gimana rasanya saling mencintai tanpa dikomentari banyak orang ... " Ali merangkul pundakku diiringi tatapan tak rela Lota.

»»»

"Prillyyy.....ternyata lo yaaaaa...." Anty berteriak sambil merangkulku.
"Sttt.....ribut bener sih lo. Malu maluin gue ajaaa...."
"Prilllll, gue cuman mau nanya,kok lo bisa tahan melihat senyum Ali, kok lo gak melelehhhh....?"
Aku tertawa mendengar pertanyaan konyol Anty. Tapi memang senyum kingnya aku bikin meleleh sih.
"Aku tahan karna dia milikku, Nty...."
"Ciieeeee, akhirnyaaaaa ngakuuuuuu......"
Hmmmm akhirnya....
Ternyata lebih lega kalau semua orang tau dia milikku. Aku miliknya.
Walaupun disekolah kami hanya berpandangan dari jauh. Tak seperti pasangan lainnya yang diantar dijemput kekelas, hanya pulang dan pergi sekolah bareng. Jam istirahatpun tetaplah kami dengan kegiatan sendiri sendiri. Dia di lapangan basket, aku diperpustakaan. Kami punya ruang sendiri untuk mengekspresikan diri.
"Sekolah tempatnya belajar, kita pacarannya dirumah aja..." Ali menyentuh hidungku dengan telunjuknya diiringi tatapan mesranya yang selalu bisa melemahkan jantungku. Akhirnya kami berjalan bergandengan menuju parkiran motor.
Puas menjadi tranding topik disekolah karna King terpilih ternyata punya Queen pilihan, aku dan Ali justru merasa lebih bebas tanpa beban lagi melangkah bersama.
"Aku harap kamu jadi Queennya aku selamanya, Prill....."
"Yang aku mau selamanya Kingnya aku itu kamu, Li....."
Diatas motor yang membelah jalanan Ali menggenggam erat tanganku yang memeluknya erat.
Inilah rahasia besar kami. Sekarang semua sudah tau  Muhammad Ali milik siapa? Prilly Mahatei punya siapa? Tak ada yang menyangkakan, remaja 16tahun seperti kami serius untuk menjadikan satu dan lainnya sebagai Teman Hidup?
»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»
Banjarmasin, 04 Januari 2016

Note.
Ini cerita yang saya buat Januari 2016 yang lalu dan saya posting di Wattpad.
Cuma mau memposting juga disini saat ini 4 September 2017. Ada sebabnya, tapi hanya saya yang tahu. hehe...
Saya hobby menulis cerita fiksi sejak sekolah. Tidak fokus ketanda baca atau aturan sastra. Terima Kasih sudah singgah.

Gue bingung menggunakan Blog

Ditengah kebingungan aku hanya bisa mengetik apa yang ingin aku ketik.
Ini adalah kado dari sahabatku.
Pingin punya blog tapi nggak tau cara menggunakannya.
Hahhaaaa

Friday, December 4, 2015

KADO UNTUK SAHABATKU PUSPA

Blog ini sengaja saya buat sebagai bagian dari hadiah ulang tahun untuk sahabat saya Puspa Mekar yang berulang tahun tanggal 05 Desember, sahabat dunia maya saya yang sudah saya anggap sebagai saudara bersama teman-teman yang lain yang tergabung dalam grup LINE APRILHOLIC serta D'Random.



Puspa Mekar, penulis yang sudah menerbitkan 3 buah buku yaitu 'Saat Dia Tertidur', 'Mermaid Cintaku' dan 'Secret of the Heart'.
Penulis di wattpad yang fenomenal dan tak pernah kehabisan ide.





Opah adalah panggilan kesayangan kami untuk Puspa di grup LINE Aprilholic.
Bersama 13 teman yang lain yang berasal dari daerah yang berbeda-beda kami bersatu dalam sebuah Grup karena kecintaan kami pada Aliando dan Prilly. Saling berbagi baik suka maupun duka dan selalu support Aliando dan Prilly.

SELAMAT ULANG TAHUN OPAH... PUSPAMEKAR
Doanya semua yang terbaik untuk Opah, tetap menjadi Opah yang momsky kenal, semakin sayang pada keluarga, pada Aprilholic dan juga D'Random.
Momsky sayang Opah.

Salam sayang kami dari Aprilholic
- Christina Evelina ( Mamita )
- Widya ( Momsky )
- Olivia liph ( Ipin )
- Ervinna (Upin )
- Rosalia Septiani ( Yos/ Ocha )
- Rani Wibawa (Rani )
- Reny utami ( Reny )
- Jia ( Jia )
- Dinniambar ( Dinni )
- Nurulliza ( Nuyul )
- Faridajauza ( Odeng )
- Ghina Sahira (Ghinz )
- Anita

Terima kasih Opah, berkat Opah Momsky bisa mengenal mereka semua, bisa seru seruan bareng kalian semua.

Semoga akan seperti ini selamanya. Aamiin.

Muacchh

WIDYA