^KING & QUEEN^
Puspa Mekar
Komitmen adalah Rahasia Hati, Bukan Rahasia Umum ...
Jika saatnya tiba, rahasia besar itu akan terbuka, aku ini punya siapa dan kau milik siapa......
»»»
Cowok itu king sekolah.
Setahun yang lalu saat penataran diawal aku memasuki sekolah kejuruan
ini dia terpilih menjadi King dan berdampingan dengan seorang Queen yang
serasi dengannya.
Semua orang memujanya. Semua orang menatapnya kagum.
Muhammad Ali.
Memang namanya terdengar
sederhana bagi kebanyakan orang yang modern dan memilih nama
kebarat-baratan. Tapi sebenarnya nama itu sangat agung karna nama
seorang Nabi besar dan nama seorang petinju kelas dunia. Mungkin nama
itu diberikan saat petinju Muhammad Ali sedang bertarung dan meng -Ko-
lawannya. Hmm aku berasumsi sendiri.
Yang pasti nama itu
menjadi keren ketika melihat wujud cowok itu. Bagaimana tidak, lihatlah
wajahnya mulus, walaupun aku tak kalah mulus sih. Hidungnya sempurna.
Matanya tajam dan berbulu mata lentik. Semua cewek meleleh melihatnya.
Tapiiii....aku enggak....
Aku biasa saja bahkan cenderung menghindarinya.
"Omegat, ganteng sangat
ni cowok, gue gila banget kalau liat dia, gak papa kalau gak bisa
memiliki, asal bisa memandangi...ohhh Ali...."
Suara Anty
disebelahku membuat aku menoleh pada Ali yang sedang berdiri dipintu
kantin menatap kedalam kantin yang ramai. Sepertinya tak ada tempat
duduk untuknya.
"Apaan sih Nty, malu-maluin gue aja lo..." Aku merauk
wajah Anty yang seketika mupeng melihat cowok itu. Cool. Eh, kok aku
jadi berpikiran dia cool sih? Aku berdecak dan berdiri. Tiba-tiba
perasaan tak sukaku naik kekepala.
"Eh, lo mau kemana kok gue
ditinggal?" Anty ikut berdiri dan mengiringi langkahku menuju ibu kantin
dan membayar makanku yang tak kuhabiskan.
"Gue mau keperpus, mending
lo gak usah ikut, tar lo berisik, dimarahin sama Bu Wiwid." Aku
meninggalkan Anty yang tetap mengikutiku walaupun aku larang ikut.
»»»
"Sttt....Pril...."
Aku
menatap seseorang yang tiba-tiba sudah ada disebelahku. Cowok yang
selama ini sering mendekati aku. Putih, bermata coklat sama sepertiku,
rambutnya ikal, bibirnya memerah.
"Iya, kenapa Fei?" Aku kembali menyimak buku yang kupegang.
"Mmmhh anu..."
"Apa?"
Aku menoleh kearahnya. Dia menatapku dalam-dalam. Entah ada setan
darimana, kusadari wajahnya mendekat dan aku memundurkan wajahku kaget.
Cowok ini kenapa? Datang - datang kok mau nyosor.
"Sebentar jangan gerak,
ada bulu mata jatuh..." Feisal menempelkan ujung jari telunjuknya
kebawah mataku. Kulihat sehelai bulu mata tertempel disana. Rupanya aku
salah faham. Aku jadi malu sendiri.
"Kalau ada bulu mata jatuh, konon katanya ada yang kangen.." Feisal menaruhnya ditelapak tangan dan menepuk tangannya.
"Nih, kalau setelah
ditepuk bulu matanya ilang, berarti yang kangen orang jauh, tapi kalau
masih tertempel ditelapak tangan, berarti yang kangen orang dekat." Aku
menatap feisal heran.
"Nih, ternyata masih nempel, berarti orang yang dekat, gue tau siapa yang kangen sama lo.."
"Siapa?"
"Gue...hee..." Feisal menyunggingkan senyum yang diimutkan. Aku meringis melihatnya lalu balik menyimak buku yang kupegang.
"Pril, cuek banget sih lo ... ?"
"Ini perpustakaan Fei,
nanti dimarahi tu sama Bu Wiwid .. " Aku beralasan. Lagian ganggu orang
diperpustakaan kan gak asik banget. Mau baca dengan tenang jadi
terganggu deh.
"Kalo gitu kita keluar aja yukk..." Feisal menyenggolku. Aku tak menggubrisnya.
"Prill," senggolannya cukup keras kurasa.
"Sttttt....." Suara Bu
Wiwid menegur mungkin mulai terganggu dengan kebrisikan Feisal. Aku
menutup buku yang kubaca dan berjalan ke rak buku untuk menaruh kembali
buku pada tempat saat aku mengambilnya tadi. Feisal membuntutiku begitu
juga ketika aku melangkah keluar dari perpustakaan. Ya Tuhan, aku sebal
sekali. Didepan perpustakaan aku berhenti mendadak dan akhirnya feisal
menabrakku.
"Feiii...tolong dong, gue jangan dibuntuti, gak enak dilihat orang." Aku menolak Feisal berlaku seperti tak ada kerjaan.
"Gue
gak peduli orang lain, gue pedulinya sama lo ... " Feisal masih tetap
keras kepala. Aku melangkahkan kaki berlalu segera dari hadapannya.
"Pril, Pril tunggu gue ... "
Aku tak menggubrisnya meskipun beberapa pasang mata memperhatikan kami.
Bel panjang tanda sudah habis waktu istirahat menyelamatkan aku dari Feisal yang membuatku sangat terganggu.
"Pulang sekolah gue tunggu lo didepan kelas ya Pril..."
Teriakannya tak kuhiraukan dan aku cepat-cepat melarikan diri masuk kelasku dan menuju mejaku dimana sudah ada Anty.
"Pril lo tau gak....."
"ENGGAK."
Aku
langsung memotong bicara Anty saat baru saja aku menaruh pantatku
dikursi sebelahnya, Anty mulai ingin menggosip. Itu terlihat dari raut
wajahnya.
"Ihh, Prilly ini belum juga gue selesai ngomong..."
"Habisnya lo sih, belum juga gue duduk udah mau dikasih gosip.."
"Ihhh
ini bukan gosip, gue tadi liat sendiri Ali berduaan sama Lota ditaman,
tangan Ali kelihatan seperti ngerangkul bahunya pas lagi duduk dibangku
taman itu..." Anty bercerita dengan antusias.
Aku hanya menatapnya
datar meski Anty tak tau ada yang mengganggu hatiku mendengarnya. Lota
adalah Queen yang mendampingi Ali saat terpilih menjadi King. Sudah
bukan rahasia lagi kalau Lota menyukai Ali dan selalu mencari kesempatan
untuk berdua dengannya. Ah, apa peduliku?
"Rupanya dipasangkan
menjadi King dan Queen bikin mereka deket ya Pril..." Anty menyimpulkan
sendiri apa yang dilihatnya. Untung saja aku tak perlu susah susah lagi
mengomentarinya karna Bu Nia guru Surat Menyurat dan Komunikasi sudah
memasuki kelas.
"Selamat siang anak-anak, siapkan buku kalian, hari ini kita ulangan..."
"Huuuuuuuuu....."
Semua murid termasuk Anty berteriak kecuali aku. Aku hanya tersenyum.
Meskipun tidak belajar tapi mau gimana lagi kalau Bu Nia mau mengadakan
ulangan mendadak begini. Biasanya ini hanya untuk mengetes sejauh mana
pemahaman kami dengan pelajaran minggu lalu. Harusnya kalau faham ya
tidak perlu khawatir.
"Tenang banget lo Pril," Anty menyenggol bahuku.
"Gak juga, Nty, hanya mencoba menerima kenyataan..."
Akhirnya aku dan Anty hanya terkikik pasrah.
»»»
Teetttttttt.....!
Bunyi
bel terakhir pelajaran bergema keseluruh penjuru sekolah. Aku merapikan
buku dan alat tulisku yang ada diatas meja dan memasukkannya kedalam
tas.
"Lo naik angkot lagi Pril..."
"Iyaa..." Aku menjawab singkat pertanyaan Anty. Kami beriringan keluar kelas.
"Pril...."
Ck. Feisal. Ternyata dia benar-benar menungguku didepan kelas. Aku berpandangan dengan Anty.
"Gue anterin lo pulang ya..."
"Gak usah gue dijemput kok.."
"Bohong, Prilly naik angkot kok Fei..." Aku mencubit lengan Anty. Anty mengaduh dan setelahnya berbisik.
"Biarin lo dianter sama dia, lumayan ongkos naik angkot disimpen buat besok..."
Aku
menyikut Anty. Aduh, dia tak tau kalau sebenarnya aku tak benar-benar
naik angkot. Maksud dia baik tapi itu tak baik buatku. Aduh celaka dua
belas dah.
"Maaf Fei, sebenarnya aku dijemput kok, maaf ya..." Aku tetap berusaha menolak Fei.
"Lo
jangan sungkan sama gue, gue gak maksa lo buat jadi pacar gue kok, gue
hanya mau bantuin lo, karna memang gue sayang sama lo, gue gak tega lo
naik angkot, gak papa kok Pril, lo jangan gak enak.." Feisal tetap
memaksa.
"Udah biarin aja, dia ganteng ini..." Anty menyenggolku
lagi. Akhirnya daripada berdebat aku diam saja sambil melangkahkan kaki
kepintu gerbang diiringi Anty dan Feisal. Didepan gerbang Anty pamit
karna sudah dijemput oleh Papanya yang mengendarai sepeda motor.
"Lo tunggu disini apa ikut gue ngambil motor dulu...?"
Aku menatap Fei datar dan putus asa dengan kekeras kepalaannya.
"Disini aja..." Aku menjawab seadanya dengan ide yang tiba-tiba muncul dikepala.
Begitu
Fei menuju parkiran, diam-diam aku ingin kabur meninggalkan gerbang
sekolah. Tergesa aku ingin memasuki komplek disebelah gedung sekolah.
"Pril...!!"
'Omegat, ternyata cepat juga si Fei ngambil motornya.
"Kok gue ditinggalin?"
"Enggak, tadi aku pikir sambil jalan .. "
"Ohh, ayoo naik..."
Aku terpaksa naik keboncengan Fei dan akhirnya motor melesat pulang kerumahku.
»»»
"Dianterin Fei?"
Aku menatap cowok didepanku yang menatap dengan tatapan tajamnya.
"Terpaksa, aku gak bisa ngindar.." Aku menjawabnya agak tak enak melihat reaksinya.
"Jangan sampai kamu jadi tergoda sama dia..."
"Gak akan, aku sayangnya hanya sama kamu ... "
"Cape nggak sih kayak gini?"
"Kamu cape? Oh pantesan..."
"Pantesan gimana?"
"Kamu mulai membagi rangkulanmu sama cewek lain .."
"Gosip murahan .. "
"Tapi buat apa duduk berduaan sih? Emang kamu gak bisa ngehindar?"
"Tanya sama diri kamu, cara ngehindarnya gimana?"
Dia
merangkul dan mengusap bahuku. Ya, gimana bisa menghindar kalau tak ada
yang tau dia milikku. Muhammad Ali itu milikku. Prilly Mahatei itu
miliknya.
Kami sudah berpacaran
selama setahun. Setelah Lulus Sekolah Menengah Pertama memasuki Sekolah
Menengah Kejuruan. Dulu kami juga satu sekolah bahkan satu kelas dan
satu bangku. Kami sepakat memutuskan untuk menutupi hubungan karna takut
terganggu. Ali terlalu menawan. Seorang cowok jika memiliki penggemar
cewek maka cewek bisa berbuat apa saja untuk membully pilihannya.
Berbeda kalau posisinya cewek sepertiku. Kalau ada cowok menyukai
seorang cewek, meskipun dia agresif dia takkan membully saingannya.
Itulah sebabnya kami
memilih sekolah yang sekiranya tak mungkin dipilih teman-teman SMP kami.
Maka pilihan kami jatuh ke Sekolah Menengah Kejuruan.
Awalnya biasanya saja
rasanya. Tapi setelah setahun berlalu dan kami duduk dikelas dua
sekarang bahkan terpisah kelas sejak kelas satu, rasanya aku mulai
merasa gerah.
Terkadang aku ingin
semua orang tau dia milikku ketika dia digosipkan dekat dengan cewek
lain. Sering merasa cemburu bila melihat dia duduk berdua atau berjalan
beriringan dengan yang lain dan semua mata menatap mereka.
"Bisa gak kita saling jaga perasaan?" Ali menunduk kearahku yang bersandar dibahunya.
"Caranya?" Aku mendongakkan wajahku kearahnya.
"Bilang aja sama yang deketin kamu, kamu udah sold out.." Ali tertawa diujung ucapannya.
"Ihhh memangnya aku barang jualan...?" Aku mencelos seketika.
Ali meraih kepalaku, aku memukul dadanya yang dibalut kaos hitam warna favoritenya.
Aku
menikmati berada dipelukannya. Bermanja padanya. Mendengar rayuannya.
Saat seperti ini. Dirumah. Bersamanya. Tanpa ada yang tau dia milikku.
"Sampai kapan?"
"Sampai aku siap dibully orang lagi..."
Ya, saat SMP aku dibully
orang yang ingin mendapatkan perhatian Ali. Orang yang menganggap aku
biasa dan tak layak disampingnya.
"Kamu itu udah yang
paling istimewa buat aku, mereka gak tau senyaman apa aku bila dekat
kamu, jangan peduliin mereka..." Ali selalu mematahkan anggapan mereka
yang menganggapku tak istimewa.
Sementara tak sedikit
orang yang menganggap Ali juga tak layak untukku karna status sosialku
yang dianggap lebih tinggi darinya. Memiliki seorang ayah yang sukses
menjadi orang terkaya di Indonesia, dimana wajah ayah kadang bertebaran
diacara talk show untuk mengulik kiat suksesnya menjadi pengusaha yang
memiliki aset besar dalam waktu singkat.
"Aku gak pernah nganggap
kekayaan orangtuaku membuat aku lebih tinggi didepan kamu, toh kalau
kita berjodoh, kamu yang menjadi imam dan penanggung jawabku, gak usah
dipikirin..."
Ya, cinta itu harus mau
menerima apa adanya. Bahkan akupun pernah berkata didepan Ayah, Bunda,
Mila kakakku dan Juleha asisten rumah tanggaku dirumah
"Biar aku aja yang kaya, gak papa ..."
Saat itu kami sedang
membicarakan pesta perkawinan megah relasi Ayah disebuah hotel
berbintang lima. Aku berkomentar betapa megah dan ramainya pesta itu.
"Nanti saat ii menikah, kalau bisa seperti impian ii ya, Bun..."
"Emang impian lo kaya gimana sih, Dek?" Kak Mila menyahutiku sambil ikut bersandar di Sofa.
"Aku pingin kaya puteri
puteri kerajaan gitu Kak, pake baju yang lebar ada kawatnya itu,
pokoknya disetting seperti negeri dongeng gitu, kaya cinderella,
dijemput pakai kereta kencana berkuda beneran ... " Dengan antusias aku
menjelaskan pada Kak Mila diiringi senyuman Ayah dan Bunda.
"Wuihhh, kalau sama yang
sekarang nikahnya, dia harus kerja keras buat mewujudkan impian lo itu
biayanya pasti mahal banget, lain halnya kalau lo sama Rico anak relasi
Ayah yang punya lima perusahaan besar di Indonesia itu, dek..." Kak Mila
berkomentar dengan mata melebar.
"Biar aku aja yang Kaya, Kak, gak papa kok .. " Aku memiringkan kepalaku mengedipkan mata pada Kak Mila.
"Ihh jangan juga Pril,
dia harus punya tanggung jawab, biar dia kerja keras ... " Kak Mila
menyahut lagi tak setuju dengan sikapku.
"Tugas cowok hanya bikin
ceweknya bahagia Kak, nggak nyakitin, setia, dan nerima apa adanya,
yakan bun...?" Aku melirik bunda yang hanya senyum-senyum mendengar
pernyataanku.
"Wuiih dewasa sebelum
waktunya ni anak...." Kak Mila melemparku dengan bantal Sofa dan aku
membalasnya. Ayah dan Bunda hanya senyum-senyum saja mendengar obrolan
kami. Obrolan anak umur 19 dan 16 tahun, terasa jauh banget
kepernikahan. Hehe.
»»»
Aku melihat kekanan dan
kekiri, turun dari boncengan Ali aku langsung bergegas menuju gerbang
sekolah. Pagi-pagi sekali Ali sudah menjemputku dengan Motor sportnya.
"Loh, kok jemput
aku...?" Aku keheranan melihatnya. Untung saja aku memang terbiasa
bangun saat sholat subuh dan tak pernah tidur lagi setelahnya.
"Aku kangen bareng kamu kesekolah, nikmatin pagi sambil dipeluk kamu dari belakang..." Ali tersenyum membuat aku salah tingkah.
Dan rasanya wajahku
memanas karna aku merasa malu memiliki kekangenan yang sama. Memeluk dia
dari belakang diatas motor yang akan membuat kami dekat sepanjang
jalan.
"Gak takut ada yang liat lagi?"
Kami memang sudah pernah
beberapa kali pulang dan pergi kesekolah bareng tapi rasanya gak nyaman
karna takut kepergok teman satu sekolah. Kaya artis yang pacarannya
ditutup-tutupin aja curi-curi gitu karena takut dilihat fans atau
wartawan infotainment.
Pernah juga kami pergi
nonton, dan kami harus melepaskan selipan jari dan berpencar saat dari
jauh melihat Lota and her gank. Akhirnya kami bertemu saat masing-masing
masuk kestudio dan mencari tempat duduk yang bersebelahan sesuai dengan
tiket nonton yang kami beli. Didalam bioskop sepanjang film diputar
tangan kami tak pernah terlepas bahkan popcorn yang sempat dibeli Alipun
tak banyak berkurang.
"Enggaklah, ini masih pagi banget, aku sengaja supaya belum ada yang sampai disekolah selain kita..."
"Nanti turunin aku agak jauh aja dari gerbang, Li, takutnya udah ada yang datang duluan selain kita ... "
"Oke..."
Ali memasangkan helm dikepalaku dan akhirnya kamipun melesat bersama sampai diujung jalan sebelum gerbang sekolah.
"Aku duluan sedikit ya
sayang..." Aku mengangguk masih saja tersipu jika dia memanggilku dengan
kata 'sayang' yang tak bisa dengan bebas dia ucapkan didepan banyak
orang.
Aku berjalan kaki dengan
santai menuju gerbang. Didepan gerbang bertemu Anty yang memang juga
selalu pagi-pagi sekali sampai kesekolah karna berbarengan dengan
Ayahnya yang pergi bekerja.
"Pril, jauh juga ya lo jalan kaki turun dari angkot..." Anty berkata sambil menungguku sampai didepannya.
"Udah biasa, Nty..."
Aku menyeka dahiku yang terasa basah sambil tersenyum.
"Omegatttt.....Pril..."
Anty meremas tanganku. Aku mengikuti arah pandangnya. Ali berdiri
diparkiran yang kami lewati sambil membenahi rambutnya. Sedikit senyum
disudut bibirnya ketika mata kami bertemu.
"Kenapa?" Aku mengalihkan tatapan menoleh pada Anty.
"Senyumnya Prill, ohh Aliii..."
"Anty,
lo jangan malu-maluin gue deh..." Seperti biasa aku bersikap tak suka
tiap kali Anty mengagumi Ali. Bukan benci sama Anty, diakan gak tau yang
disebelahnya ini yang punya.
Aku menyembunyikan
senyumku melihat Anty dengan wajah sumringah melewati Ali yang masih
berdiri diparkiran. Aku tau, dia menunggu aku lewat dulu baru dia akan
beranjak kekelasnya.
Ketika secara diam -
diam tanpa sepengetahuan Anty aku menoleh lagi pada Ali yang sudah kami
lewati, senyumku memudar melihat Lota menghampiri Ali dan menggandengnya
tapi sedetik kemudian Ali melepaskan tangan Lota. Ck. Kenapa cewek itu
agresif sekali ya? Aku menghela nafas. Rasanya capek hati jika harus
melihat seperti ini tanpa bisa mencegah.
»»»
"Ali, maaf, gue udah gak
tahan nungguin lo nembak gue, gue gak sabar pingin ngeresmiin hubungan
kita, gue ngomong gini karna gue ngerasa lo punya rasa yang sama ke gue,
gue cinta sama lo, gue pingin kita resmi jadian bukan hanya King dan
Queen sekolah tapi gue ingin jadi Queen dihati lo ... "
Kalimat yang
keluar dari bibir manis Lota membuat aku memejamkan mata dibalik tembok
yang menghalangi Ali dan Lota yang sedang berdiri berhadapan.
Aku
lihat Ali menatap Lota tak berkedip. Aku yakin Ali syok ditembak Lota.
Apalagi Lota meyakini Ali juga punya rasa yang sama padanya. Aku
menggigit gigit bibirku menunggu apa yang akan dikatakan Ali.
"Doorrrr....!" Suara teriakan mengagetkanku.
"Lagi apa lo disini ngintipin orang pacaran??" Fei melongok ke arah pandanganku.
"Oh, Ali dan Lota..." Fei menatap kearah yang tadi kupandang.
"Gu..gue
tadi mau ketoilet tapi gak enak ngelewatin orang orang itu kayaknya
serius banget..." Spontan aku menjawab. Sialan Fei mengganggu saja. Ah,
jadi gak taukan apa yang Ali katakan sama tu cewek.
"Serasi ya
mereka, King dan Queen...ganteng dan cantik ... Kayak gue sama lo kalau
jadi satu alias pacaran.." Selorohan Fei tak begitu kuperhatikan lagi
ketika melihat Ali mengusap rambut Lota dan ingin melangkah diiringi
cewek itu yang terlihat langsung memeluknya. Aku lihat tangan Ali
menggantung disisi tubuhnya sebelum dengan ragu mengusap punggung dan
melepaskan pelukan Lota. Ya Tuhan, ada yang memukul dadaku hingga
rasanya lebih nyeri daripada saat ada yang bilang aku tidak menarik dan
tak cocok sama Ali. Kulihat Ali mengusap pipi Lota dengan ibu jarinya.
Aku memejamkan mata. Aku cemburu. Meskipun aku lihat bibir Ali
mengatakan Maaf berulang-ulang didepan Lota.
Aku bergegas
meninggalkan tempat itu dan tak jadi ketoilet karna harus melewati
tempat mereka sedang berduaan diiringi Fei yang mungkin juga
mengurungkan niatnya ketoilet cowok yang bersebelahan dengan toilet
cewe.
"Pril, kenapa sih lo?"
"Gak papa Fei. Emang kenapa sama gue?"
"Kenapa gak jadi ke toilet..?"
"Udah gue bilang gak enak ngelewatin..."
"Tapi apa peduli lo? Anggap aja gak ada orang sama seperti yang lainnya..."
Kenapa
sih ni cowok bawel banget? Kepo bener dah ah. Kayaknya cocok banget
sama Anty. Eh, kenapa aku jadi ingat sama Anty? Aku menggelengkan kepala
sambil berlalu.
"Darimana lo?" Anty bertanya begitu aku menghenyakkan diri disebelahnya.
"Dari tadi..." Aku menjawab Anty sambil mendelik dan Anty memukul pelan bahuku.
"Pril..." Didepan pintu kelas Fei berdiri dengan nafas turun naik.
Aduh, kepalaku pusing, Fei dari tadi gak menyerah juga mengejar aku.
"Nty, Fei ini sebenarnya naksir sama lo, dia hanya pura - pura deketin gue supaya bisa deket sama lo..."
"Benarkah?"
Mata Anty melebar terkejut dan menatap kearah Fei. Fei mendekatiku dan
Anty dengan senyum yang manis. Tapi lebih manis senyum Ali sih.
"Pulang ini gue nganter lo ya..."
"Jangan,
gue dijemput sama bokap gue, besok aja kalau mau janjian..." Anty
langsung menyela. Aku hampir saja tertawa melihat Fei keheranan.
"Tapiii...." Fei ingin mengklarifikasi.
"Jangan
gak sabar gitu dong, besok ya..." Anty masih mencoba,membujuk Fei yang
kebingungan. Aku langsung menarik Fei keluar kelas.
"Anty suka sama lo Fei, mending lo sama dia aja...."
"Kenapa lo ngatur gue buat suka sama siapa, Pril? Guekan sukanya sama lo..."
"Gue udah punya cowok, gue gak mau cowok gue salah faham ... "
Feisal terdiam.
"Kenapa gue gak pernah liat lo sama cowok lo?"
"Gak
perlu kan Fei gue gandengan dulu biar orang tau gue ada yang punya,
cukup dari mulut gue, komitmen itu rahasia hati Fei bukan rahasia umum
..."
'Dengar Li, aku sudah
mencoba menjaga perasaan kamu, supaya tak ada yang membuat kamu gak
nyaman bila melihatku disekolah, aku berharap kamu bisa tegas sama orang
yang gak mau menjaga jarak sama kamu.'
»»»
Telpon genggam yang ada
diatas meja samping piringku bergetar dan berbunyi. Acara makan malam
ini di Restoran steak favorite Mila dalam rangka kakakku itu mengenalkan
Orang tua Kak Kevin pacarnya. Aku gelisah karena sedari tadi Rico
mantan pacarku menelpon terus.
Bunda melirik hapeku
disela-sela obrolannya dengan Mama Kak Kevin. Lihat deh Kakakku, begitu
sumringah disamping pacarnya. Senang ya kalau sudah orang tua dengan
orang tua bertemu. Rasanya hubungan lebih terjaga.
Akhirnya aku mengangkat telpon dari Rico.
"Iya?"
"Kamu dimana?"
"Di Steak Resto..."
"Aku juga sedang disini, maukan kamu kesini? Ada Mama sama Papaku, katanya kangen sama kamu..."
"Akuuu...."
"Selamat Malam..."
Tiba-tiba saja Rico sudah ada dibelakangku. Para orang tua begitu juga Kak Mila dan Kak Kevin melihat kearahnya.
"Om, Tante, apa kabar?"
"Baik Nak Rico..." Ayah menyahuti Rico. "Mau gabung disini?"
"Enggak, Om, mau ngajak Prilly kesana ketemu Mama sama Papa, boleh ya Om..."
"Dodi, senang ketemu disini," Ternyata Papanya Rico menyusul dan menyapa Ayah.
"Boleh Prilly saya ajak ke meja kami, saya dan istri kangen ngobrol sama dia..."
Sebenarnya aku tau Ayah, Bunda dan Kak Mila menatap faham padaku. Mataku seolah berkata 'Jangan ijinkan, Ayah...'
Tapi tak mungkin ayah tak mengijinkan kalau orang meminta baik-baik dengan alasan yang tidak ada salahnya.
Akhirnya aku terpaksa
mengikuti mereka. Dimeja mereka hanya pembicaraan basa-basi yang
tercipta, selebihnya, orang tua Rico membiarkan anaknya yang gencar
mengajakku ngobrol. Sebenarnya aku menilai, bukan orang tuanya yang
kangen padaku tapi Rico. Rico bahkan ingin mengantarkan aku pulang.
Akhirnya Ayah terpaksa
mengijinkan. Aku harus bagaimana? Biarpun gak melakukan apa - apa, aku
tetap merasa bersalah pada Ali. Rasanya aku seperti berkhianat saja. Ali
sangat sensitif jika sudah berbicara soal Rico.
Rico mantan pacar yang
sewaktu putus masih aku cintai. Kami putus karna dia mendua. Saat itu
aku baru naik kelas tiga SMP, Rico sudah kelas 2 SMA. Ali tau benar
ceritaku dengan Rico, karna diawal kelas 3 itu gara-gara sering curhat
tentang Rico karna kami duduk sebangku aku jadi lebih dekat dengan Ali
dan dibully. Akhirnya ketika kami lulus SMP Aku dan Ali berkomitmen
pacaran tanpa publikasi salah satunya disebabkan aku takut diduakan lagi
dan putus lagi akhirnya dimata orang aku punya banyak mantan.
Sayang udah pulang?
Aku melirik layar handphoneku.
Sms
dari Ali. Ali tau aku makan malam sekeluarga dengan keluarga Kak Kevin.
Apa jadinya jika dia tau aku sekarang pulang diantar Rico.
Ini lagi dijalan, bentaran lagi nyampe
Ya udah, habis itu istirahat ya
Iya, ini juga aku udah cape
Kalau udah nyampe chatt aku ya
Iya, emang mau ngapain?
Mau cium kamu sebelum bobo
Ih kamu Li, inget ya kamu jangan bobo malem-malem
Aku menutup mulutku
dengan jantung berdebar. Ali memang paling bisa membuat dadaku seperti
dipukuli. Dipukuli dengan cinta maksutnya. Ah.
"Kok senyum-senyum, kenapa?"
Aku mendelik kearah Rico yang berada dibalik kemudi.
"Gak papa..."
"Gimana kabar Ali, masih pacaran?"
"Kok nanyanya gitu?"
"Siapa tau kan udah putus."
Kalimat
Rico yang terakhir kali ini membuatku tak senang. Apa maksudnya berkata
seperti itu? Doain banget supaya aku dan Ali putus.
Rico memang tau aku
berpacaran dengan Ali karna aku pernah bilang sama dia saat dia pernah
meminta maaf telah main hati sama cewek lain dan mengajak aku balikan.
"Kalau udah putus aku pingin kamu balik sama aku...."
Ck. Ini yang aku
takutkan bila berduaan saja sama dia. Dia selalu berharap bisa balikan
sama aku. Dia sudah sering chatt aku entah itu bbm, line, Wa, sms bukan
hanya sekedar say hai apa kabar tapi juga selalu memancing kearah
balikan. Aku terpaksa menghapus chatt-nya tak ingin Ali membaca dan
salah faham.
Ali memang paling
cemburu pada Rico apalagi Rico anak orang kaya lebih dari dia. Diundang
ke ulang tahun adik Rico saja, Ali tak henti-henti mengirimkan sms cinta
ketika aku pergi hanya sekedar menghargai undangan keluarga Rico.
Katanya biar kalau aku ketemu sama Rico aku masih ingat ada orang yang
mencintaiku lebih dari apapun dan aku pasti takkan tergoda rayuan mantan
pacarku itu untuk balikan. Berasa tersanjung banget deh sampai
ditakutkan tergoda segala.
"Doain aku sama dia
tetap nyambung seperti lingkaran dan kalau harus berlikupun
perjalanannya seperti angka delapan jadi akan selalu ketemu ujungnya
tanpa putus, doain ya, forever with him..."
Rico terdiam dengan
ucapanku. Mungkin dia pikir masih punya kesempatan. Menurut dia, kalau
status pacaran bisa saja putus, apalagi aku baru 16tahun dia baru hampir
20tahun. Dia salah kalau hanya memperkirakan dari segi umur. Aku dan
Ali punya pendapat sama soal komitmen. Kami serius. Orang tua kamipun
mungkin tak menyangka dalam usia muda seperti ini kami serius menjalin
hubungan.
Jujur dan setia sudah
menjadi dasar kami menjadikan masing-masing sebagai sahabat hidup. Aku
dan Ali menyebut begitu karna aku dan Ali ingin menjadi sahabat hidup
selamanya. Menurut kami pacaran bisa putus, menikah bisa cerai, tapi
kalau kami menganggap satu sama lainnya sebagai sahabat hidup, maka
sahabat itu takkan pernah putus. Aamiin.
»»»
Jam sepuluh aku baru
sampai dirumah. Aku lihat mobil Ayah juga sudah terparkir digarasi. Yang
mengejutkanku, Aku melihat motor Ali terparkir didepan rumah dan dia
sudah duduk diberanda rumah dengan seikat bunga.
"Li, aku minta maaf .. "
Ali
menatapku dengan mata kecewa. Ada sesak didadaku telah membuatnya
kelihatan terluka. Tapi ini bukan seperti yang dilihatnya. Aku tak
berbohong keluar makan malam dengan keluarga Kak Kevin.
Hmmm Nyesel. Kenapa aku
bisa ketemu Rico dan keluarganya dan tak bisa menolak dia untuk
mengantarkanku pulang? Nyesel juga kenapa sampai ke gap Ali begini.
Harusnya aku bisa ceritakan sendiri padanya dalam suasana yang lain.
"Aku kesini mau kasih ini ... " Ali menyerahkan seikat bunga hidup yang selalu menjadi moodboster aku jika dia yang memberikan.
"Makasih ya ... " Aku mencium bunga itu dan duduk di kursi yang dipisahkan meja disamping Ali. Sesaat kami terdiam.
"Li, tadi akuuu..."
"Tadi Ayah kamu udah
jelasin, tapi aku masih gak suka aja kenapa bisa Rico masih coba-coba
dekatin kamu ... Aku mulai kuatir kalau dia takkan menyerah sampai
niatnya tercapai..." Ali memotong ucapanku. Aku lega ternyata Ayah
sangat memahami aku. Tanpa diminta sudah jelasin duluan. Tunggu ya Yah,
aku akan peluk Ayah.
"Aku juga gak akan menyerah untuk menolak, percaya ya sama aku, I love you, Li .. "
"I Love You too ... "
Ali membuka telapak tangannya yang direntangkan diatas meja, telapak
tangannya dengan erat menggenggam jemariku setelah tanganku
menyentuhnya.
"Aku minta maaf ya..." Aku meremas tangannya.
"Aku maafin, asal jangan gak bisa menolak saat dia pingin ngelamar kamu..." Ali balas meremas tanganku.
"Enggaklah, aku maunya dilamar kamu..."
Kami terkekeh bersamaan. Untung aja masalahnya gak jadi panjang. Gimana Ali bisa gak percaya, Ayah yang jelasin semuanya.
"Kenapa malam-malam kesini? Kan aku udah pesen kamu jangan bobo malem-malem..."
"Kan aku udah bilang, mau cium kamu sebelum bobo ... "
"Kirain lewat telpon ... "
"Enggak aku mau sentuh kamu langsung, itu yang ngebawa aku kesini, entah kenapa tadi berasa pingin ketemu banget ... "
Feeling kamu tepat Li, cewek kamu sedang gundah diganggu orang. Aku berbisik dalam hati.
"Ya udah, ini udah
ketemu, hampir jam sebelas, kamu nanti kemaleman Li, bukan aku ngusir,
tapi aku nguatirin kamu ... " Aku menatapnya kuatir. Ali mengangguk dan
menundukkan wajah mengangkat tanganku yang masih digenggamnya.
"I Love You ... "
Darahku berdesir begitu bibir Ali menyentuh punggung tanganku.
"I Love You Too ... "
Dengan
dada berdebar aku balik menyentuhkan bibirku kepunggung tangannya. Saat
kepalaku menunduk mengecup punggung tangannya Ali mencium ujung
kepalaku. Akh.
"Ehm, udah kaya suami mau ninggalin isteri aja pake cium tangan... "
Suara
Kak Mila mengagetkan. Omegat saking asiknya berduaan, suara mobil Kak
Kevin yang singgah didepan rumah aja gak kami sadari.
"Eh Kak Mila, kebetulan, Ali mau pamit nih, titip salam aja sama ayah sama bunda takut ganggu udah istirahat ... "
Ali
langsung berdiri dan pamit pada Mila dengan kikuk. Mungkin tak enak
karna kepergok berpegangan, saling mengecup punggung tangan dan mencium
kepalaku.
"Ok, hati - hati Li .. " Mila tersenyum dan aku menunjukkan bunga dari Ali pada Kak Mila.
"Alay lo, ntar gue minta belikan bunga satu truk sama Kevin, wleee...."
"Ngatain alay tapi minta belikan juga...hadeh..."
Aku menepuk dahiku dan mendekati Ali yang kulihat siap siap dengan motornya dan sempat saling tegur dengan Kak Kevin.
"Hati-hati, sayang ... "
Aku berbisik didekatnya takut kedengeran sama Kak Mila, bisa-bisa aku diledekin lagi.
"Iya Sayang, aku pulang dulu, bye ... "
Aku
melepas Ali dengan perasaan lega. Ah, aku sampai lupa bicara soal Lota.
Aku hanya ingin tau Ali menjawab apa ketika Lota menembaknya?
»»»
BRAKK!
Tasku jatuh dari pundakku ketika Lota mendorong bahuku.
"Aa..da apa Lota?"
"Lo ternyata main belakang ya, satu sekolah udah tau gue Queen, Ali King sekolah ini, kenapa lo deketin dia diem - diem?"
"Deketin diem-diem gimana?"
"Lo sengajakan jalan kaki dari rumah karna lo tau jalan rumah Ali kesekolah ngelewatin komplek lo dan lo nebeng ke dia?"
"Maksud lo apa sih, Lota?"
Sial. Aku menjerit dalam hati. Kenapa dia harus lihat aku hari ini ke-sekolah bareng sama Ali?
"Lo jangan pura - pura,
pasti Ali nolak gue karna udah lo rayu, sampai dia pura-pura bilang dia
udah punya Queen dihatinya selama setahun, mana mungkin lo, lo bukan
saingan gue, gak level gue sama lo."
Aku tak membantahnya.
Aku sudah menduga akan menerima penghinaan ini. Aku menunduk ingin
mengambil tas yang terjatuh dikakiku. Tapi kaki Lota menginjak tasku.
Apa-apaan ini?
Aku seperti mencium kakinya.
"Lota ... Lo keterlaluan ya..."
Aku mendengar suara Ali dari depanku dan Lota berbalik dengan wajah pucat.
"Lo gak boleh kayak gitu sama Prilly ... " Ali memperingatkan Lota.
"Dia udah lancang nyoba
jadi saingan gue, dia gak level sama gue, Li, gue lebih layak sama lo.."
Lota memeluk Ali sambil menangis. Ali sepertinya terkejut tapi hanya
menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Lagi-lagi dadaku
seperti didesak oleh puluhan bara Api yang panas menyesak.
Kulihat berpasang-pasang
mata melirik kearah kami. Aku mengambil tas yang jatuh dibawah kakiku
yang sekarang nampak bekas tapak sepatu Lota.
'Aku hitung sampai tiga,
kalau kamu gak lepas pelukannya itu kita berakhir aja, Li....semua
menatap kita, aku tak rela orang lain memandang kamu lebih membelanya
daripada aku, aku tau dimata mereka aku bukan siapa-siapa kamu, justru
Queen dipelukanmu itu mereka kira lebih layak kamu bela, meskipun mereka
gak tau kalau aku yang terluka melihatnya sekarang...'
Satu.
Dua.
Tiga.
Goodbye Ali.
Aku
berbalik dengan kaki yang sudah sulit untuk dilangkahkan lagi. Semua
orang menatapku. Semua orang pasti menghinaku. Semua orang taunya aku
yang menyakiti padahal sebenarnya akulah yang tersakiti.
"Prill..."
Aku tak
berniat menghentikan langkahku. Kalau hanya menyuruhku berbalik dan
melihat tangannya yang harusnya hanya merengkuhku tapi sekarang memeluk
orang lain didepan umum aku tak akan sudi.
"Prilly..."
Kurasakan
bahuku diraih, dan Ali membalik tubuhku menghadapnya. Tangannya
menangkup kedua pipiku. Aku tak tau, bagaimana raut wajah Lota ketika
melihatnya.
"Li, tolong ... "
"Kurasa kita gak perlu lagi
menutupi, aku gak mau kali ini kamu disalahkan, kalau ada yang bilang
kamu gak layak buatku, aku yang akan jawab yang ngerasain itu aku bukan
mereka."
"Lota, Gue udah kasih
tau lo kemarin, gue udah punya Queen dihati gue, dia orangnya, kami
sudah setahun jalan, apa ada masalah buat lo?"
Lota menatap nanar pada Ali dan aku bergantian. Kepalanya menggeleng sepertinya tak percaya.
"Kenapa? Kenapa harus ditutupi? Karna lo malu punya cewe kaya dia?"
"Sama sekali enggak, gue
bangga sama Queennya gue, tapi nutupin adalah hak kami, karna komitmen
itu rahasia kami, bukan rahasia umum, biar kami yang ngerasain gimana
rasanya saling mencintai tanpa dikomentari banyak orang ... " Ali
merangkul pundakku diiringi tatapan tak rela Lota.
»»»
"Prillyyy.....ternyata lo yaaaaa...." Anty berteriak sambil merangkulku.
"Sttt.....ribut bener sih lo. Malu maluin gue ajaaa...."
"Prilllll, gue cuman mau nanya,kok lo bisa tahan melihat senyum Ali, kok lo gak melelehhhh....?"
Aku tertawa mendengar pertanyaan konyol Anty. Tapi memang senyum kingnya aku bikin meleleh sih.
"Aku tahan karna dia milikku, Nty...."
"Ciieeeee, akhirnyaaaaa ngakuuuuuu......"
Hmmmm akhirnya....
Ternyata lebih lega kalau semua orang tau dia milikku. Aku miliknya.
Walaupun
disekolah kami hanya berpandangan dari jauh. Tak seperti pasangan
lainnya yang diantar dijemput kekelas, hanya pulang dan pergi sekolah
bareng. Jam istirahatpun tetaplah kami dengan kegiatan sendiri sendiri.
Dia di lapangan basket, aku diperpustakaan. Kami punya ruang sendiri
untuk mengekspresikan diri.
"Sekolah tempatnya
belajar, kita pacarannya dirumah aja..." Ali menyentuh hidungku dengan
telunjuknya diiringi tatapan mesranya yang selalu bisa melemahkan
jantungku. Akhirnya kami berjalan bergandengan menuju parkiran motor.
Puas menjadi tranding
topik disekolah karna King terpilih ternyata punya Queen pilihan, aku
dan Ali justru merasa lebih bebas tanpa beban lagi melangkah bersama.
"Aku harap kamu jadi Queennya aku selamanya, Prill....."
"Yang aku mau selamanya Kingnya aku itu kamu, Li....."
Diatas motor yang membelah jalanan Ali menggenggam erat tanganku yang memeluknya erat.
Inilah
rahasia besar kami. Sekarang semua sudah tau Muhammad Ali milik siapa?
Prilly Mahatei punya siapa? Tak ada yang menyangkakan, remaja 16tahun
seperti kami serius untuk menjadikan satu dan lainnya sebagai Teman
Hidup?
»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»
Banjarmasin, 04 Januari 2016
Note.
Ini cerita yang saya buat Januari 2016 yang lalu dan saya posting di Wattpad.
Cuma mau memposting juga disini saat ini 4 September 2017. Ada sebabnya, tapi hanya saya yang tahu. hehe...
Saya hobby menulis cerita fiksi sejak sekolah. Tidak fokus ketanda baca atau aturan sastra. Terima Kasih sudah singgah.